Selasa, 06 Juni 2017

Tentang Empati & Berkata Baik




Beberapa tahun belakangan ini, jagat dumay alias dunia maya ramai, ricuh, rusuh, (what other word can you say to describe it?) dengan mom's war. Mulai dari ASI vs sufor (Dah basi bangeeeet inih), cesar vs normal, working mom vs stay at home mom, sampai pembantu vs non pembantu. Apalagi ya? kayanya gendongan vs stroller juga pernah ya? banyak ya bahan untuk war?. He he karena saya nggak pernah ikutan war dan nggak berminat juga jadi nggak tau deh update-an war di dumay. Temen aja yang suka ngasih tau war apa yang sedang berlangsung :D


Tapi tau nggak sih? saya, yang nggak pernah war-waran inih *bahasa apa ini? :) diajak perang coba di whatsapp group. Nggak diajak juga sih sebenernya tapi apa namanya coba kalau ngeluarin statement yang mojokin saya ke pojokan banget, digenjet lemari, jati lho ya bukan plastik trus ditutup tirai hitam and lampu dimatiin. Ngajak perang kan itu mah? But thanks God it's Ramadhan ya... jadi lucky you, jurus-jurus daku nggak keluar nih.


Bermula dari niat saya memasukkan anak ke suatu tempat belajar informal, sebut saja X. Ternyata, jadwal belajar di X terbilang unik. Tidak selang satu hari seperti tempat belajar informal lainnya. Biasanya kan senin-rabu, selasa-kamis gitu kan ya? Iya aja yah, daripada-daripada :D. Nah, di X itu, senin-selasa, rabu-kamis. Tidak akan menjadi masalah kalau si anak cuma belajar di X. Akan menjadi masalah kalau belajar juga di Y misalnya. Jadwal akan bentrok kan?.


Dalam rangka mencari solusi yang terbaik saya bertanya pada pengajar via whatsapp group, bagaimana jalan keluarnya?. Tak disangka tak dinyana, ada seorang wali murid dengan santainya bilang: Saya akan memprioritaskan jadwal belajar di X karena ini jalan ke surga. What!!!! *bukan kalimat tanya. Saya kesel bangeeet but i'm trying to control myself. Istighfar.... cuma kalo deket sih pengen nyolek sambil bilang, tau empati nggak sih mak?.


Tuk menyalurkan kekesalan, saya kasih liat deh tuh obrolan di grup ke pak suami. Saya duga pak suami yang cenderung nggak suka ribut pasti komen "Ya udah, nanti gampang itu" etapi ternyata nggak, dia mendadak jadi kompor meleduk "Nggak dibales Mi?". Membara donk saya 😁 etapi Alhamdulillah, sekali lagi dengan kekuatan ramadhan, kalem lagi saya. "Biasanya dibales" *kompor masih meleduk. Kasih senyuman manis "Ih, nggak lah ya, rugi". Percakapan di gruppun sudah selesai. Masih belum ada solusi.


Beberapa hari kemudian, jadwal belajar X fix keluar. Dikabarkan via whatsapp group. "Siap pak Ustadz", "Fulan siap pak", "Fulanah siap" rata-rata tanggapan wali murid. Eh ada satu donk tetiba muncul dengan masalah yang sama seperti saya, jadwal anaknya bentrok. Wah, ada temen nih pikir saya. Nggak lama, batal deh dia jadi teman saya setelah komen "Saya coba atur jadwal di tempat lain". Saya nggak masalah sama statement beliau... Alhamdulillah kalau bisa diatur seperti itu. Yang masalah kan kalau emang totally nggak bisa diganggu gugat kaya jadwal anakku trus ada yang komen "bapak, ibu pentingkanlah jadwal di x karena ini akan menjadi penerang kubur". *Saya langsung close whatsapp 😂 #takberdaya


Beberap hari kemudian, diri ini nggak tahan juga :D. Saya ketik juga kalimat demi kalimat, panjang kali lebar deh and send. Ramadhan makes the sentences beautifull and ngademin ati. Ya, saya memilih kata-kata yang baik instead of ngeluarin unek-unek. Yeay ternyata banyak yang jadi tim saya, mereka setuju dengan apa yang saya bilang. Laaah baru berani keluar dan berpendapat 😅


Alhamdulillah, menulis memang bisa membuat kita tetap waras, sehat jiwa, sehat batin, ples ngarep sehat kantong juga 😊. Trus, dah dapet solusi? Belum, tapi saya yakin, niat baik menyelaraskan ilmu akhirat dan ilmu dunia akan diberi jalan keluarnya oleh Alloh. Semoga Alloh memudahkan, aamiin... ples karena pak suami kenal dengan ustadznya sih, jadi agak tenang. Segera saya disposisikan aja deh masalah atur jadwal ke pak suami 😁


Betewe,... Curhatam saya ini bener nggak kalau ini termasuk war? Ah, anggap aja bener deh ya... Daripada-daripada 😁


With Love
-Indah-


Kamis, 27 April 2017

SEDEKADE BERSAMA

Suami istri dalam pernikahan berbilang tahunan pasti akan saling mewarnai. Mewarnai dalam hal kebaikan adalah suatu yang baik dan sangat diharapkan walau tidak menutup kemungkinan saling mewarnai dalam hal keburukan. What about you?... Apakah kalian mewarnai dalam hal kebaikan atau malah mewarnai dalam hal keburukan?.


Dulu, bulan-bulan pertama kami baru menikah, kami merasakan penurunan semangat. Suami yang pertama kali bilang. "Kenapa aku jadi malas berangkat ngaji ya?...". Sudah beberapa pekan memang pak suami tidak datang pertemuan pekanannya dengan alasan tidak enak badanlah, capeklah, de el el. Ternyata pak suami malas datang sebenarnya karena lebih memilih menghabiskan waktu sama saya. Aih... saya jadi bingung mau marah atau jingkrak jingkrak kesenengan. Sayapun menyadarinya. Kalau dibuat grafik, mungkin pada saat sebelum dan sesudah menikah ada penurunan grafik yang tajam. Untungnya kami segera sadar diri dan mencoba memperbaiki semuanya. Sudah diberi nikmat dipertemukan oleh Alloh kenapa jadi melupakan Nya?.


Pada saat proses pencarian dan penjemputan jodoh, saya khawatir akan berjodoh dengan orang yang tidak baik. Karena, tidak sedikit teman saya yang wanita baik mendapat suami yang akhlaknya kurang baik. Tapi seorang teman menenangkan dengan berkata "Suami istri itu ibarat cermin, tidak akan berbeda jauh kapasitas dirinya. Maka, jadilah pribadi super jika mau mendapatkan pasangan super, itu!" Eh, itu sih kata pak Mario ya :)


Setelah 10 tahun menikah baru saya sadari. Ya, kami adalah cermin bagi satu sama lain. Kalau pak suami mudah marah pastilah saya juga sedang menjadi manusia menyebalkan bernama pemarah. Kalau pak suami sedang manis nggak ketulungan, pasti sayapun sedang dalam masa manis legit kaya lapis surabaya. Kalau pak suami dingin, menjauh, bisa dipastikan sayapun sedang kelelahan, tak peduli. Reaksi orang akan sama dengan aksi kita. Ya kan ya kan?


Pengantin baru sepuluh tahun ;)

Berbekal pengalaman 10 tahun sama teman sekasur, saya dah tau deh apa yang bikin dia nggak nyaman, apa-apa yang bisa bikin dia marah, jurus-jurus andalan juga dah lengkap. Maksudnya bukan untuk mengalahkan lho... ini jurus-jurus untuk mencegah adu argumentasi. Jurus andalan ya tetap MENGALAH ples diem seribu bahasa. Nothing else went best :)


Bulan April ini, tepatnya tanggal 15 kami sudah genap bersama sepuluh tahun. Susah, senang, tawa, air mata, semua emosi kayanya dah lengkap deh. Nggak terasa sih dah sepuluh tahun. Time really flies... Anak-anak sudah besar, kamipun sudah berubah secara fisik. Sudah mulai menua. Kalau sepuluh tahun nggak terasa, apakah itu tanda bahagia? :)


Setelah menjalani pernikahan bertahun-tahun saya menyadari bahwa, menikah itu bukan main-main ya... perjanjiannya saja, langsung sama Alloh lho... Diberi anugrah anakpun menjadikan pundak lebih berat. Bukan, bukan semata tentang rezeki untuk nafkah mereka tapi, tuntutan tanggungjawab untuk menjadikan mereka anak sholih- sholihah yang berat sekali rasanya.


Menikahpun menurut saya proses pembelajaran seumur hidup. Nggak sama kayak impian dulu selagi gadis. Kayanya maniiiiiis melulu aja. Nggak kebayang pahit, sepet, asemnya. Ples penuh idealisme. Semua akan berjalan sesuai rencana dan harapan. Suami adalah ksatria berkuda penuh cinta, istri adalah ratu ayu sabar nan penyayang, anak-anak akur saling menyayangi satu sama lain. Sarapan bareng pake roti dan jus jeruk. Eh itu mah sinetron!! :)


Kenyataanya? Suami saya bukanlah ksatria berkuda yang sempurna. Pun karena saya bukanlah ratu dengan segala kesempurnaan tapi alhamdulillah terus berusaha sabar dan memang penyayang :D *teteup ga mau jelek. Anak-anak pasti saling menyayangi walau sering bertengkar. Saya maklum berat dan tau banget, karena dulu juga pelaku pertengkaran yang sayang sama adik-adik :D


Jadi, tulisan ini intinya apa? Saya mau mengenang aja sepuluh tahun bersama pak suami he he he. Kalau kata pak suami sih, sepuluh tahun itu spesial. Nggak semua pasangan bisa sampai satu dekade bersama. Dan biar bisa dibaca ulang sama anak cucu cicit :D *warisannya deretan alamat blog


Setelah sepuluh tahun perjalanan saya belajar bahwa, kami adalah cermin. Ada aksi ada reaksi. Jadi kalau mau reaksi yang positif, selalu berikan aksi postif. Selalu tundukkan pandangan karena banyak laki-laki di luar sana yang secara fisik jauh lebih menarik dan nggak sopannya juga kadang mengganggu. Tapi buat apa? nggak halal bagi saya :)


Syukur juga saya panjatkan karena sudah dipertemukan dengan pak suami. Bahagia buat saya itu sederhana. Dibawain sebungkus cakwe aja senengnya bukan main. Ga perlu emas permata deh... *logam mulia ajahhh. Dibantu pekerjaan rumah tangga bagi saya that's the real man!!... Selalu antar jemput kemanapun saya pergi, itu sesuatu. Etapi ini dalam rangka ga rela saya boncengan ama abang ojek ato ngirit ya? ;D Sabar menghadapai anak-anak, itu luar biasa. Tetiba mijitin saya, itu romantis!!. Kalau tidur selalu mepet saya, itu invasi ruang tidur!!! please stop it, Saia kesempitan :D


Rumah tangga kami memang bukan rumah tangga keluarga cemara yang sempurna tiada tara. Rumah tangga kami bukan rumah tangga yang sarapan bareng pake roti dan jus jeruk ealaaah jus jeruk lagi!!. Rumah tangga kami bukan rumah tangga yang selalu bergelimpangan kata "Iya sayang...", "Ada apa sayang", "Yuk liburan ke Jepang sayang" uhuk awas ini kode. Tapi.... He is my wonderful husband and definitely I am his wonderful wife and we will always fighting to be a wonderful family. Nyuwun sewu Pak Cah dan Bu Ida, judul bukunya dipinjem :)



With Love
  -Indah-


Jumat, 17 Februari 2017

Year of Reunion





Dapet undangan reuni? Hmmm.... apa yang terlintas pertama kali? mantan? gebetan? musuh? atau bingung mau dateng apa nggak? he he... pasti beda-beda lah ya setiap orang but one for sure ketika keputusannya mau datang reuni, pasti kelanjutannya sama yaitu Pake baju apa ya? :) mendadak merasa nggak punya baju padahal dua lemari penuh padat merayap :D *bukan pengalaman. 


Kenapa begitu? coz everybody wants to look great in the reunion. Yang dulu hits di sekolah pengen tetep hits, yang dulu gaul abizz sekarang harus tetep gaul, yang dulu pinter harus terliat wow, yang dulu kuper sekarang gimana caranya ga mau keliatan kuper lagi, yang dulu jomblo kok ya sampe reuni belasan tahun masih jomblo?! he he maaf ya mblo :) ga maksud.


Dua tahun belakangan ini saya full padat acara reuni. Mulai dari reuni SMP, SMA, perguruan tinggi, sampai kos-kosan. Soooo excited. Saya yang dulu anak biasa ajah, ga ngerasa harus looks great ato wow gimana gitu. Biasa aja... pure emang pengen ketemu temen-temen and mantan gebetan. 


Yang out of the box ya cuma atu, pak suami. Waktu saya minta anterin ke reunian, dia komen "Ngapain sih reunian? emang masih inget?".
Ya iya kali saya kaya anda :D , saya mah inget selalu ma temen-temen.
"Kan udah ngobrol ngalor ngidul di grup" lanjutnya.
"Aah... beda yank, ini kan kita mau ketemuan".
"Kan bisa liat fotonya di PP nya".
"Beda, pokoknya aku mau dateng".
Selesai, dia nganterin juga :D.


Pak suami tuh tipe orang masa sekarang aja. Jadi, temen-temennya ya yang sekarang aja. Grup whatsapp yang alumni sesuatunya cuma atu, yang lainnya ya teman-teman masa sekarangnya. Saya? Lengkap dah grup alumni dari SMP, SMA, Perguruan tinggi, Kos-kosan, sampe mantan grup pengajian *lah grup ini belum reuni nih :D



a 16 year reunion

Reuni pertama kali adalah reuni teman-teman di farmasi dulu. Ini reunian 16 tahun. Seruu... and U know what, secara muka nggak ada yang berubah. Jadi ya masih ngenalin banget, ini siapa itu siapa. Cuma ada satu orang yang memang berubah banget... kalau nggak diamatin dari deket, dipahami, dan di ubek-ubek memori mukanya jaman dulu di salah satu kompartemen otak, pasti nggak ngenalin. Acara berlangsung seru, hangat, dan menyenangkan. Dengan unread messages setelah reuni hampir 1000 chat :) dan ada yang janjian besanan.



a 13 year reunion

Reuni kedua adalah reuni kos-kosan dulu di Bogor. Ini dia nih gerombolan cewek-cewek pelaku keisengan di Dag Dig Dug Ngulang Taun. kalau ini, bukan excited lagi. Lebih baik mati aja deh kalo nggak bisa dateng reuniannya. Ha ha kayak dah siap aja cuy. Reunian kos-kosan ini yang paling bikin bingung pak suami. Lah wong hampir tiap hari ngobrol di grup, pernah ketemuan juga kalau lebaran, masih perlu reunian ya?. Perlu bangeeeet. Soalnya reuniannya ples napak tilas di Bogor. Kita nggak ngumpul di tempat yang mahal-mahal. ngumpulnya harus pake banget di selot, karena kangen bakso, mie yamin, pisang molen, and mpek-mpek nya. Bukan hanya kangen rasanya tapi juga kangen memorinya eh he he... Tau nggak... pedagangnya masih sama!! 


Rencananya selesai makan nanti jalan ke kos-kosan, ngelewatin BCA, tempat fotokopian langganan, tukang nasgor langganan di kantor pos. Terakhir, silahturahmi ma bapak and ibu kos yang dulu sering kita kurangajarin :). Tapi rencana tinggal rencana, yang tadinya mau jalan kaki mendadak males and bilang aaah jauh banget deh kayanya. Ke laut dah napak tilas!!. Padahal dulu juga kuat jalan sampe stasiun!!. Emang, di saat duit pas-pasan, kita tuh bisa emejing banget ya, super mampu dan kuat sodara-sodara!! Ha ha ha. Ples rasa bakso yang mie nya dipisah itu, rasa mpek-mpek lenggang yang dah bikin ngeces dari dulu, pokoknya yang di arep-arep wueeenak, eh biasa aja. Ya iyalah, dulu makan di selot mah effort (walau nggak banget) nyisihin uang kiriman. Sekarang lidahnya dah kenal makanan restoran and hotel. Tapi, alhamdulillah... Bersyukur pernah jadi mahasiswa yang bahagia walau cuma makan di selot :) 


a 20 year reunion

Reunian ketiga, reuni SMP. Ini juga bikin penasaran banget. Soale, ada gebetan dan banyak memori kelas saya dulu adalah kelas yang paling bandel. Sebutin aja semua kenakalan remaja, ada pelakunya di kelas saya ini. But people change. Iya kali, masih bandel aja. Dikit mungkin. Sampai anak-anak yang memang selalu ikut saya, bengong aja ngeliat kelakuan ajaib teman-teman saya ini. Sampe dikomentari ma temen saya "Kenapa, nggak pernah liat temen ummi yang kaya begini ya?" He he... tapi seru dan toh anak-anak harus mengenal dengan beragam karakter orang kan?. Ada beberapa orang yang sudah berpulang... semoga Alloh merahmati mereka...


Itu cerita reuni yang hhmmm... menyenangkan. Satu tip dari saya: just be yourself. Nggak usah dipikir yang dulu-dulu. Nggak usah show off siapa dan apa yang sudah kamu hasilkan. Keberhasilan nggak selamanya diukur dengan materi. Perlu diingat juga, sekarang beda dengan masa lalu. Kalau dulu main klepak aja, masa iya sekarang juga keplak-keplakan. Lah ini katanya satu tip. Lanjut aja ya... trus, jangan pake baju yang sama walau tuk reunian yang beda. Nggak enak juga ngeliat di fotonya kaya gini :) . Saking biasanya aja saya... baju juga itu-itu aja. Trus, ati-ati CLBK. Kan dah ketemu jodohnya masing-masing. Kecuali,... buat kamu mblo. Kalau ada yang masih jomblo juga (underlined!!), ya udah siiiih sama dia ajah!!


*Waiting for the next reunion

With Love
  -Indah-


Kamis, 09 Februari 2017

Goes to a movie - Nonton Iqro'


Sumber: Fb Iqro

"Yank, ada film anak-anak bagus lho.."
"...."
"Film buatan salman ITB, rohisnya ITB"
"Tentang apa?"
"Tentang planet-planet gitu, anak-anak pasti suka... Judulnya Iqro'. Nonton yuuuk"
"Besok nggak bisa, abi ada rakor"
"Minggu aja"
"Minggu juga ada acara"
"............................................" *Muka bete
"Sabtu or minggu depan aja yuuuk"
"Wah, nggak tau juga ada acara apa nggak"
"Aah abi mah gitu, kapan donk waktu buat keluarga. $#%@$&^*!#$&^$  #agak ngomel panjaaaang. "Izin dulu laah nggak ikutan"
*No respond
"Pokoknya minggu depan ya"
*Still no respond
*Saiah geregetaaaan :v


Satu minggu setelahnya. Saya hampir lupa nagih janji nonton.
"Yank, kapan kita nontonnya? Keburu abis. Besok ya..."
"Besok nggak bisa"
"Ya udah hari minggu"
"Hari minggu kan ada acara ISI"
"Kan pagi, kita nontonnya siang atau sore"
*No respond


Setelah drama yang agak panjang *males nulisnya, akhirnya kita pergi juga ke bioskop. Buru-buru abis dari acara ISI langsung cuus ke mall balkot. Anak-anak dah excited eeeeh keabisan tiket donk. Wow banyak peminatnya ternyata. Sudah saya duga sih coz broadcast-an nya lumayan kenceng. Untung sore masih ada. langsung deh beli yang tuk sore. Yeay :x ... Iqro', here we come..




Sore harinya, anak-anak berdo'a :y biar nggak hujan... Alhamdulillah hujan he he... tapi untung cuma seiprit dan sebentar. Akhtar paling cerewet ngingetin semuanya. "Ayo, kita nggak boleh terlambat lagi. Ayo Ummi, ayo...". "Tenang Nak, kita kan sudah beli tiketnya. nanti tinggal masuk aja".


"Bioskop kaya gini ya Ummi,..." sambil celingak-celinguk ngeliat sekitar :fn
"Wiiih" masih celingak-celinguk waktu lampu sudah dimatikan.
He he... "Adek kan udah pernah kaya gini. Waktu liat 4D kan begini juga".
"Jadi nanti kursinya goyang-goyang lagi?"
"Nggak"
"Yaaaah"


Belum sampai sejam, akhtar dah jempalitan nggak bisa duduk dengan tenang. Kakinya dah di pundak saya, kepalanya di tangan abinya. "Ini dah mau selesai ya Ummi" Ha ha... :D "Sabar ya nak, bentar lagi". Akhtar berdiri di kursi, liat temennya di kursi atas. "Ilman" panggilnya. Saya harus sering-sering mancing tuk balik fokus ke film. 
"Tuh dek, liat teropongnya besar sekali ya" 
"Dek, itu bintang dek, banyaaak ya" 
"Dek, bagus ya pemandangannya" 
"Dek, komet dek" 
"Dek, itu planet dek" 
"Dek, pluto dek" 
#Lelaaaah


Film Iqro nya sendiri biasa aja siih... menceritakan seorang anak bernama Aqilla yang punya tugas untuk mengamati pluto di observatorium boscha di Lembang. Sang Opa (Cok simbara) yang merupakan astronom di Boscha, mensyaratkan Aqilla harus pandai mengaji dulu baru diizinkan melakukan pengamatan. Di hiasi konflik Boscha akan ditutup karena polusi cahaya sekitarnya sudah terlalu tinggi. Recommended buat anak-anak... Ada banyak hikmah dan pembelajaran yang bisa diambil ples nyegerin mata liat pemandangan di Lembang.


Masa eh masa... saya nangis donk waktu Aqilla dan temannya yang bernama Fauzi mengaji di lomba mengaji di sebuah festival. Bagus dan tulus banget mengajinya. Dari hati sampai ke hati deh!!. Ke gap pula sama Thaya.. "Kok nangis sih ummi, nggak usah nangis ummi" :) Sama adegan Fauzi mengaji kalau kangen almarhumah bundanya. Duuuh... terharu!!. Pelariannya ke Qur'an sodar-sodara!!


Bagus deh film ini buat pembelajaran anak-anak... bisa makin mengenal Alloh sebagai Sang Khalik dan mencintai Al qur'an... tapi pliss ya bunda panda, jangan berasa di rumah nontonnya. Masa, setiap ada adegan yang mengena, saya denger komentar kencang tetangga kursi (yang ada di seberang deret bawah saya) ke anaknya:
"Tuuh, denger tuuh"
"Naah, bener kan"
"Di dengerin ituuu"
Masya Alloh.... itu kan kasian anaknya bun, dihakimi di depan orang sebioskop :# .
Bisik bisik aja ke telinga anak kita...
"Subhanalloh ya Nak, ngajinya bagus. Thaya pasti bisa juga kalau sering dilatih"
"He he kakak itu iseng ya Nak. Menurut Adek, bagus nggak kalau begitu sama teman?"
"Masya Alloh Nak, bintang itu luar biasa banyaknya ya... Allah keren ya?" :L


Dan pembelajaran menyenangkan dilanjutkan ketika perjalanan pulang. We talked a lot about stars, moon, sun and earth. Alhamdulillah,... nggak rugi deh bayar mahal!! Intinya itu :)


Maaf ya kalau berharap ada review film Iqro' disini :o... cuma ada curhat menye-menye hampir batal nonton he he...


With Love :L
   -Indah-


Senin, 06 Februari 2017

Reward Board Tuk Motivasi Anak

Pinjem dari shutterstock

Suka pusing kepala, panas dalam, tenggorokan sakit sampai meriang ngadepin tingkah polah anak-anak bun? Minum obat bun, itu gejala flu he he... Kidding... Suka gregetan pastinya ya ngadepin anak-anak. Kenapa? karena kita salah pasang standar. Kita? saya kamsudnya :)


Suka gregetan ngliat anak sholat pake disuruh suruh terus karena saya pasang standar seperti saya sekarang, yang sholat nggak perlu pake disuruh. Tapi, kalau saya ingat-ingat :t , duluuuuu jaman saya seumuran anak saya, sama. Sholat juga harus disuruh dulu sama ibu. Pake kesel ples sholat ngebut, sama!!:D


Suka kesel kalau anak saya apa-apa minta diambilin. Anduk, minum, baju, semuaaaa minta diambilin. Sampe makan minta disuapin. kalau dibandingkan dengan saya sekarang yang apa-apa sudah mandiri-Iya kaleee minta diambilin sama disuapin, digetok ntar ma si babeh :)-emang bikin kesel. Tapi setelah saya buka luka lama  eh memori lama, ya begitulah saya dulu waktu kecil :# .


Suka kesel liat anak kalau marah kok ya nggak kontrol amat ya? teriak-teriak, ngomel. Naah kalau ini pasti sama kaya abi nya :). Baiklah, jujur lebih baik ya... itu saya 10 menit yang lalu yang dulu. Sekarang ngomel ajah :p .


Tapi itu semua sudah berubah lho... nggak kesel lagi, nggak gregetan lagi, nggak capek ati :o . Kok bisa? Ya bisa dooong... dengan sedikit kreatifitas dan banyak capek he he... Saya punya reward board tuk anak-anak. Papan penghargaan lah kalo kata orang endonesah bagian nggak biasa bahasa inggris :)


Not yet finished reward board in several months

Intinya, mereka akan dapat reward kalau melakukan sesuatu dengan baik tapi nggak pa pa kalau nggak sempurna karena sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Nya semata kan ya... Saya buatin atu-atu. Bikinnya bareng anak-anak, dari kalender bekas dan kain flanel. They are sooooo excited, even a 4th grade athaya!!!. Mereka nggak sabar tuk dapet bintang. 


Bahkaaan, di saat si reward board ini dalam waktu lama hanya berupa kertas dan bertuliskan nama alias nggak jadi-jadi karena mamak nya ini malaaay-aneh ya, anaknya excited, mak nya tetiba malay-perilaku anak-anak sudah sedikit berubah. Kata bintang bertaburan dimana-mana. "Sholat dek, nanti nggak dapet bintang lho" kata thaya. "Mba jangan teriak-teriak nanti nggak dapet bintang lho" kata akhtar. Tapi, bertaburannya kata bintang itu belum juga menggerakkan saya tuk menyelesaikan si reward board. Saya malah seneng "Wuih, belum jadi aja dah pada jadi anak manis nih" batin saya. Cuma waktu luang hilang gegara dah mau masuk kerja lagi aja yang ternyata bisa menggerakkan saya tuk menyelesaikannya. Dudul ya? :v Ini bukan bagian yang patut ditiru ya bun... 


Athaya's reward board
Akhtar's reward board


Alhamdulillah... akhirnya selesai juga si reward board ini. Saya beri judul sesuai nama masing-masing anak. Dibagi 7 baris sesuai jumlah hari dalam seminggu. Saya bagi 4 kolom: nama hari, ibadah, kemandirian, dan sikap. Penentuan anak berhak mendapat bintang atau tidak, mutlak ada di tangan saya dengan mendengar pendapat anak yang bersangkutan dan anak lainnya. Dijadwalkan malam, sebelum tidur. Awalnya, kalau nggak dapat bintang mau saya pasang gambar petir atau foto muka saya yang lagi marah dan melotot tapi kok ya horor amaaat kan :# . Jadi, daripada mereka mimpi buruk, marilah kita biarkan kosong saja kalau belum berhak dapat bintang.


Masing-masing anak saya berikan kewajiban yang berbeda karena umurnya yang berjarak 4 tahun. Untuk ibadah, thaya yang sudah berumur 9 tahun harus sudah sholat 5 waktu. Untuk akhtar, 4 waktu kecuali shubuh. Untuk kemandirian, apa-apa yang sudah bisa dilakukan sendiri harus dilakukan sendiri. Untuk sikap, masing-masing kurang lebih sama yaitu mau berbagi (walau ada pendapat yang menyatakan anak boleh memilih mau berbagi atau tidak, I prefer choose mau berbagi. Secara kita kan wajib bayar zakat :) ), tidak teriak-teriak kalau marah, dan bersabar. 


Lumayan juga kan ya syarat tuk dapet bintangnya. Secara saya seumur thaya aja masih aaah... nggak bagus banget dah. Berhubung masa lalu orang tua bukanlah masa depan anak dan anak kita harus lebih baik dari diri kita... jadi hayuklah kita coba laksanakan reward board ini. Di hari pertama, hanya poin ibadah yang dapat reward bintang. Tak apa... Alhamdulillah :y ibadah sebagai pondasi hidup sudah mereka jalankan. Semoga tetap bertaburan bintang dan dua poin lainnya juga akan bertaburan bintang. Tunggu up date bintang the kiddos yaaa... *Dalam rangka GR ada yang nungguin updetannya*


With Love :L
     -Indah-


Rabu, 18 Januari 2017

Ummi Nggak Boleh Tua

Akhtar: "Ummi nggak boleh tua ya..."

Saya   : "Emang kenapa? :f"

Akhtar: "Nanti kalau tua, ummi meninggal"

Saya   :  Oooo... :( #mak nyeeees di hati. *Tarik nafas... "Setiap orang itu pasti meninggal dek. Tidak harus tua untuk meninggal. Kemarin, temen abi belum tua juga meninggal. Om budi meninggal. Eyang anik meninggal. Anak bayi juga ada yang meninggal"

Akhtar: "Semua orang meninggal?"

Saya   : "Iya"

Akhtar: "Masa semua meninggal, nanti siapa yang tinggal disini :t?"

Saya   :  "Ya nggak ada. Dunia ini juga akan nggak ada. Kiamat. Dah pernah ummi ceritain kan?"

Akhtar: "Pokoknya ummi nggak boleh tua"

Saya   : "Baiklah...." *kalau sudah keluar pokoknya, mengalah dulu deh saya :)


Dialog pendek itu terjadi saat saya menggantikan akhtar baju tidur. Tetiba saja akhtar bilang saya nggak boleh tua sambil ngelus-ngelus pipi saya. Apa mungkin karena melihat sudah ada kerutan di muka saya ya :#? Jadi mau ngaca. Kok jadi belok bahasan :v?.




Ehmm sebenarnya percakapan singkat itu dalam sekali maknanya bagi saya. Bukan hanya penjelasan untuk akhtar tapi juga pengingat bagi saya tentang kematian. Beberapa orang dekat sudah mendahului. Sampai sekarang saya belum sepenuhnya percaya kalau mereka sudah meninggal. Betapa kematian itu sesuatu yang tidak bisa disangka ya... Seorang teman yang suaminya meninggal mendadak mengatakan pada saya masih belum percaya suaminya sudah berpulang, masih lemas sampai ke tulang katanya kalau memikirkan almarhum :(.


Beberapa bulan yang lalu, saya pernah merasa kematian sangaaat dekat. Tidak, saya sedang tidak dalam keadaan sakit. Saya sehat wal'afiat, ingusan aja nggak :o. Tapi, entah kenapa, saya merasa kematian itu sangat dekat. Teman saya bilang, keimanan saya sedang tinggi. Apa iya? entahlah :#.. namanya iman memang turun naik- pasang surut kan ya?


Seorang ustadzah pemilik sebuah pesantren pernah memberi nasihat. Lakukan hal baik setiap saat karena kita tidak pernah tau kapan kematian tiba. Tilawah, menghafal, dzikir. Duuh, muleeees :v. Apa bekal saya nanti? Kalau mau piknik, enak bekalnya keliatan. Bisa dipastikan cukup atau tidaknya. Kalau bekal pulang ke akhirat, abstrak abizzz!!!. 


Apa iya, bilangan rakaat yang sudah saya dirikan benar-benar diterima? Apa iya, zakat yang dari kecil ditunaikan orangtua sampai bisa bayar sendiri bisa diterima? Apakah juz demi juz yang saya baca diterima oleh Nya? Apakah berkali-kali Ramadhan dan waktu-waktu shaum sunnah saya mampu membawa saya ke surgaNya? Ya Robb... astaghfirulloh...:y


Sesungguhnya semua ibadah yang saya jalankan belum pantas mendapat surgaNya... tapi sama seperti Pasha UNGU pernah bilang, saya juga tak sanggup ke nerakaNya... Tapi, nggak boleh putus asa, Allah kan Maha Penyayang, Maha Penerima Taubat, Maha Pengasih. Mohonlah ridhoNya, mintalah surgaNya, karena hanya ridho Nya lah yang dapat membawa kita ke surgaNya. Ples, hayuklah berubah. Optimalkan segala yang kita punya dan lakukan hanya berharap ridhoNya. Pokoknya do only the good ones :d

  • Kerja? Bismillah dulu. Sambil kerja, perbanyak istighfar. 
  • Di rumah? lakukan semua dengan ikhlas, no ngeluh ngeluh, stop complaining, sambil istighfar. Nyapu sambil bersenandung dzikir enak lho... Subhanalloh... Walhamdulillah... Walaa Ilaahaillallah Wallahu Akbar... :k 
  • Masak? sambil dzikir and mengulang hafalan pasti bikin makanannya sedap luar biasa. 
  • Nonton TV? wah :# kalau ini bisa lupa akhirat. Lebih baik, matiin aja TV nya. Ganti menghafal qur'an aja deh. Kalaupun nonton TV, carilah yang menuntun. Kajian, ceramah, kisah islami. 
  • Gadget? Whatsapp, BBM, Line, FB, IG, dan banyak lagi itu, seperlunya aja tuk urusan dunia. Ga usah tiap bunyi dilirik. Kalau whatsapp, saya bedakan ring tone grup and personal. Jadi biasanya saya baca yang personal aja. Tapi bukan berarti yang di grup saya nggak baca dan terlibat ya... cuma ya itu tadi, prioritas dan seperlunya aja. Ga online teruuus :o. Silahturahmi kan juga baik dan perlu ya... Pengoptimalan gadget juga bisa dilakukan tuk cari ilmu. Ikuti grup kajian, grup membaca qur'an (ada ODOJ: One Day One Juz, ODALF: One Day Half Juz, sampai tuk anak-anak ada ODOL: One Day One Lembar), grup parenting, de el el.
  • Blogging? ya, nulis yang bener... yang bisa bermanfaat buat yang lain

Itu beberapa point yang bisa kita lakukan dalam rangka menuju kematian dengan do only the good ones. Ada yang mau menambahkan? Silahkan lho...  ples jangan lupa selalu berdo'a :y diberikan husnul khotimah, ditetapkan selalu dalam kebaikan karena sekali lagi, sesungguhnya hari demi hari kita berjalan menuju kematian.


#Self Reminder

  With Love :L
      -Indah-



Kamis, 12 Januari 2017

Back on track






" Besok ummi ke kampus ga?" tanya akhtar.
"Ga, besok ke kantor. Besok nya juga, besoknya juga, besoknya juga" jawab saya *berurai air mata* Ha ha lebay :D.

Itu percakapan saya dengan akhtar di awal tahun kemarin. Biasanya, pertanyaan seperti itu ada beberapa opsi jawaban. Saya ke kampus. Saya tidak ke kampus tapi ke kantor atau saya tidak ke kampus dan tidak ke kantor. Jawaban terakhir biasanya ditanggapi dengan "YES!!!" :d and we will doing something or just gegoleran di rumah. Hiks hiks tapi itu sudah tidak berlaku lagi. Yes, I am back on track now!!. Balik ngantor lagi, balik ngelab lagi, balik nggak ketemu matahari lagi, balik macet-macetan lagi, tapi nggak sampe jungkir balik :p cuma demam aja setelah 4 hari ngantor!! :t Ha ha lemaaah :o -


Alhamdulillah sudah selesai kuliahnya. Sudah nggak perlu ngerjain tugas kuliah, sudah nggak perlu berjuang di tugas akhir, sudah nggak perlu ngejar-ngejar dosen, sudah nggak perlu mangkel whatsapp cuma di read doang ma pak dosen pembimbing :o *tega nian dikau pak*. Alhamdulillah.... Tapi, sudah nggak bisa berangkat siang, sudah nggak bisa leyeh-leyeh di rumah, sudah nggak bisa gabut, sudah nggak bisa bikin cemilan sore, sudah nggak bisa nonton paw patrol; super wings, masha and the bear lagi *Lho* :)  

Alhamdulillah saya sebagai emak-emak survive juga disuruh kuliah lagi :~. Alhamdulillah banyak ilmu baru yang semoga bisa berkah dan bermanfaat. Alhamdulillah... Walaupun harus kehilangan nikmat keluangan waktu karena harus kembali ke kantor, disyukuri sajaaa.... Syukurin lo  Alhamdulillah... ;)

Baca: (Saya Bukan) Cari Gara-Gara

Mohon maaf postingan ini hanya curhat ala emak-emak yang lelah. Ples syukuran dah lulus, ples bersih-bersih blog, ples melatih menulis sambil menghirup udara segar karena mabok etil asetat :D


Di tengah fraksinasi ekstrak gambir
               With Love :L
                   -Indah-