Selasa, 02 Desember 2014

Ibuku, Surgaku

“Lulusan apa?” karyawan yang ibu temui bertanya dengan nada ketus.
Ibu menjawab “SMA.”
“Minimal sarjana di sini” sambil melemparkan surat lamaran ibu ke atas meja.
“Ya Alloh, sakit sekali hati ibu, In. Ya, mau ngomong apalagi. Memang ibu cuma lulusan SMA, nggak bisa kuliah. Makanya kamu sekolah yang tinggi, nggak pa pa ibu nggak punya apa-apa. Yang penting anaknya sekolah.” Ibu saya bercerita tentang pengalamannya melamar di sebuah BUMN pada tahun 70-an.
“Kalau berpendidikan itu nggak akan di hina orang.” Sambung Ibu lagi


Pengalaman yang tidak mengenakkan itulah yang membuat ibu saya berjuang mati-matian agar ketiga anaknya dapat mengenyam pendidikan tinggi. Maklum, bapak hanya PNS dan ibu seorang karyawati di suatu yayasan yang bergerak di bidang dakwah islam. Jadi secara matematis, menguliahkan anak adalah suatu hal yang tidak masuk akal. Uangnya dari mana lagi?. Tapi rupanya segala hal di dunia ini tidak semua bisa kita dasarkan pada kelogisan akal semata. Satu di tambah satu belum tentu hasilnya dua. Tidak percaya? Buktinya, jika satu orang sholat sendiri dapat pahala satu tetapi kalau ditambah satu orang lagi yang artinya dua orang berjamaah, akan menghasilkan dua puluh tujuh pahala. Dalam kasus tersebut berarti satu tambah satu hasilnya dua puluh tujuh.


Penghasilan utama yang tidak bisa diharapkan membuat ibu saya melakukan usaha lainnya. Ibu yang alhamdulillah dikaruniai banyak kebisaan, melakukan usaha dari keahliannya. Ibu menerima pesanan jahitan skala besar seperti seragam anak TK, seragam jamaah haji. Ibu juga membuat kue-kue untuk dijual. Yang membuat saya kagum, semua hal itu dilakukan selepas jam kerja bahkan bisa sampai tengah malam. Karena sesampainya di rumah, ibu memasak dulu untuk makan malam kami sekeluarga. Huuft, betapa lelahnya beliau. Biasanya kalau sudah kelelahan keluhan yang datang adalah sakit pinggang. Saya yakin, segala kelelahannya sudah terhitung sebagai pahala di sisiNya.


Dengan penghasilan kedua orangtua yang pas-pasan bahkan cenderung kurang tidak membuat hati kedua orangtua saya minder sehingga memilih pendidikan dan sarana pendidikan yang seadanya. Mereka akan memasukkan kami ke sekolah yang berkualitas baik dan menyediakan segala sarana untuk mendukung pembelajaran kami. Walau mungkin hanya komputer bekas tapi masih sangat layak pakai. Buku-buku apapun yang kami minta pasti dibelikan yang demi potongan harga yang lumayan, mereka harus membelinya di pasar senen, tempat grosir buku-buku pelajaran. Kalkulator yang dibelikanpun bukan kalkulator biasa, kalkulator scientific yang canggih diupayakan untuk kami. Bahkan kami diikutkan pula belajar tambahan di lembaga bimbingan belajar ternama. Semua hanya untuk memberikan masa depan yang baik bagi kami, tidak dihina orang lagi seperti beliau dulu :o.


Terkadang, jika jalan rezeki usaha jahitan maupun jualan kue ibu sedang tidak ada orderan, Alloh memberikan jalan lain berupa jalan pinjaman. Ya, menurut saya, adanya jalan pinjaman juga suatu jalan rezeki. Ibu bisa meminjam di kantornya, bapak bisa meminjam di bank dengan agunan SK PNS nya. Sudah beberapa kali, SK bapak harus disimpan dulu di bank. Istilah ibu, Sk bapak di “sekolahkan” dulu.


Saya pernah tertegun menemukan kertas catatan prediksi pengeluaran ibu yang tercecer. Di kertas itu tertulis rinci kebutuhan rutin rumah tangga hingga kebutuhan kami, ketiga anaknya. Di baris paling bawah tertulis jumlah minus Rp. 300.000,- dengan beberapa buah tanda tanya berbaris di belakangnya. Ya Alloh, bagaimana saya bisa membantu beliau? Jerit saya dalam hati. Saya sedih sekali karena melihat ibu agak muram dan saya tidak bisa berbuat apa-apa :(. Tangan ini hanya terbiasa menadahkan tangan kepada beliau.


Dalam hal kesabaran, ibu saya juaranya :@. Beliau tidak pernah marah yang amat besar pada kami, ketiga anaknya. Bentakan atau suara bernada tinggi seingat saya tidak pernah saya dengar. Bahkan cubitan atau pukulan kecilpun tidak. Betapa sabarnya beliau menghadapi kami yang walaupun perempuan semua tetapi sering membuat ulah. Entah itu berkelahi sesama kami atau kegaduhan kami bermain. Huft,.. berbeda sekali dengan saya dalam menghadapi tingkah polah anak saya. Sepertinya saya sering kehabisan stok kesabaran tetapi beliau tidak. Bahkan untuk menghadapi anak-anak sayapun beliau masih punya banyak stok kesabaran.


Dalam hal cinta dan sayang pada anak, tidak perlu diragukan lagi. Amat banyak pengorbanan yang beliau lakukan demi memenuhi keinginan dan kebutuhan kami. Salah satu hal yang saya ingat adalah beliau pasti membawa pulang kue-kue pemberian di kantor untuk kami di rumah. Beliau enggan memakannya karena ingat kalau kue itu kesukaan anak-anaknya. Bahkan masih terbawa sampai sekarang saya sudah beranak dua. Sering ada kue untuk saya setiap hari rabu selesai pengajian di kantor ibu. Untuk pakaian, beliau masih perlu berpikir dua-tiga kali kalau mau membeli baju dengan alasan baju lama masih sangat layak pakai. Tetapi untuk anak dan cucu, tidak perlu berpikir dua-tiga kali pasti langsung di beli :v.


Sekarang beliau sudah berhasil mengantarkan kami hingga lulus kuliah, bisa bekerja, dan menikah. Bukan hal yang mudah bagi beliau. Banyak doa, keringat, lelah, dan air mata di sana. Lewat tulisan ini, saya ingin berterimakasih atas segala doa, keringat, kelelahan, dan bahkan mungkin air mata ibu untuk saya dan kedua adik saya. Atas segala untaian indah doanya. Atas segala dorongan semangatnya. Atas setiap tetes ASInya. Atas setiap syaraf yang terputus ketika melahirkan kami. Atas setiap kekhawatirannya di kala diri ini sakit. Atas limpahan kasih sayangnya. Atas kepercayaannya. Atas ridhonya. Thanks mom!!! :k. 


Doakan selalu anakmu ini agar senantiasa bisa berbakti, bisa menjadi anak sholehah yang doa untuk keselamatan Ibu dunia akhirat senantiasa di dengar olehNya. Maaf untuk segala kelakuan kami, anak-anakmu yang walaupun kami tahu bahwa berkata “ah” pada mu saja tidak boleh, kami bahkan mengatakan lebih dari “ah”. Ada Ih, uh, dan bahkan serentetan keluhan tentang mu baik aksi nyata di depan atau hanya di belakangmu. Simpuh kami rela jalani demi ridhomu, yang akan menjadikanNya ridho pula pada kami. Love you as always mom :L, thanks and sorry for everything!!


Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera





4 komentar:

Pakde Cholik mengatakan...

Tolong kirim artikel di atas ke email saya ya Jeng ( decholik@gmail.com) karena saya tidak bisa copy.

Pakde Cholik mengatakan...

Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
Segera didaftar
Salam hangat dari Surabaya

Pakde Cholik mengatakan...

Sahabat tercinta,
Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk

1. Mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya atau via email.
2. Memberikan ijin kepada saya untuk mengumpulkan artikel peserta dan menerbitkannya menjadi buku. Cek email dari saya tentang permintaan ijin ini dan silahkan dibalas.
3. Bergabung dengan Grup Penulis Naskah Buku Hati Ibu Seluas Samudera di Facebook. (https://www.facebook.com/groups/669571076492059/)

Terima kasih.

Indah Sulistyowati mengatakan...

Siip Pakdhe,.. matur suwun ;)

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca,... please give your comment here ;)